Jika Engkau masih berbaik hati memberiku kesempatan untuk meminta, aku ingin satu hal, satu hal saja…
Mohon, jangan Kau hapus cintanya untukku. Beri aku dan dia kesempatan untuk mengarungi setiap adegan yang Kau tulis di naskah skenario hidup kami, bersama, lagi. Hilangkan kesedihan di diriku maupun di dirinya. Jangan pernah Kau sekali lagi memisahkan kami.
Tapi jika Kau sudah tidak ingin mengabulkan satu permintaan sederhana di atas, aku masih punya permintaan cadangan. Aku mohon pada-Mu, dua yang ini Engkau kabulkan!
1. Buatlah seseorang yang telah berhasil membuat mesin waktu tapi tidak mau mengaku, datang kepadaku dan memberitahuku, ‘Aku ingin menceritakan sesuatu padamu, Arin. Psst.. Jangan bilang-bilang sama orang lain! Sebenarnya aku telah menciptakan mesin waktu. Aku sudah mencobanya dan berhasil! Bahkan aku kembali lagi ke zaman ini dengan membawa istriku yang sebenarnya telah meninggal.’
Dan diajaknyalah aku untuk mencoba mesin waktunya. Di rumahnya yang kecil dan terpencil di suatu negeri antah berantah. Istrinya yang cantik–yang diambilnya dari masa lalu dengan Time Machine–menjamuku dengan kue choco chips yang baru keluar dari oven dan coklat hangat yang lezat.
Setelah itu, barulah aku diajaknya ke ruang bawah tanah, menemui kotak besar berwarna biru dari besi kokoh dengan papan bertuliskan ‘Mesin Waktu/Time Machine’ di atas pintunya. Aku masuk ke dalamnya, menekan tombol pengatur waktu, dan memencet ENTER.
Mesin waktu bergerak cepat sampai-sampai aku terduduk di lantainya karena pusing. Hatiku deg-degan, tapi aku berusaha mengusirnya dengan menyenandungkan lagu milik Taylor Swift, ‘And I go back to SEPTEMBER all the time..’. September, bukan Desember. September seperti yang kuatur di mesin waktu tadi, ‘September 2010′.
Mesin waktu berhenti. Aku keluar dari kotak besi yang pengap itu. Berhasil! Aku kembali ke saat itu. Aku bertemu dengan orang yang aku idam-idamkan keberadaannya. Aku kembali ke masa itu dan tidak pernah pulang ke masa sekarang. Aku memperbaiki semua kesalahanku dan aku bahagia sekali hidup bersamanya.
Namun jika Kau tak mampu, Ya Tuhan… :
2. Aku ingin menjadi anak yang serakah! Yang egois! Yang keras kepala! Yang mengejar ambisiku! Aku ingin bersekolah siang-malam, melahap habis buku-buku di perpustakaan, browsing semua informasi yang ada di dunia maya, diberi banyak sekali tugas oleh guru-guruku, mengidap insomnia dan tak pernah tidur karena terlalu asyik membuat teori-teori baru, melawan teori Einstein atau Galileo Galilei.
Sekuat tenaga aku memforsir otakku untuk kerja romusha. Tak kuberi kesempatan ia untuk istirahat, sedetik pun! Biar aku menjadi gila atau mengidap kanker otak! Yang penting aku bisa membuang waktuku dengan belajar, belajar, dan menuntut ilmu! Yang penting aku menjadi sangaaaat sibuk hingga aku lupa kalau aku punya telepon genggam, hingga aku lupa kalau Facebook pernah ada, hingga aku lupa kalau aku pernah punya ‘kamu’ yang dulu ‘mengisi hatiku’ dan berdiri tegak di dalam hatiku, jauh di sana.
Dan pada akhirnya aku mati di depan meja belajarku, memeluk buku-bukuku, dengan komputer yang masih menyala. Setelah berhasil membuat program antivirus avANUS, meski belum berhasil menemukan TEORI ARIN.
Terserah yang mana di antara dua itu yang ingin Kau kabulkan, Tuhan, jika Kau bersikukuh enggan memenuhi permintaan sederhanaku yang kukemukakan di awal. Kabulkan permohonanku yang lebih rumit dan lebih impossible ini jika Kau malas memberiku garis hidup yang sederhana yang kukemukakan di awal. Mohon beri aku kehidupan yang layak, jika Kau masih mau mengabulkan permohonanku.
***
Sekali lagi tulisan galau dariku, melanjut post terakhir. Benar-benar terpukul menghadapi ini semua. T.T *oke, aku alay*
Btw, tulisan-tulisan di sini adalah tulisan-tulisanku yang pernah aku post di FB-ku. :D