Sungmin tertidur di sofa depan televisi dengan tangan yang masih mendekap sebuah buku. Salah satu member Super Junior yang melihat hyungnya satu itu, hendak membangunkan dan menyuruhnya untuk pindah ke kamar. Namun saat sudah berdiri di hadapan Sungmin, si member tadi lebih tertarik pada buku yang tadinya dibaca Sungmin sampai membuatnya tertidur. Buku itu cukup tebal dengan ukuran dua puluh kali dua puluh tujuh senti, sampulnya berwarna perpaduan biru muda dan putih. How to be A Good Hacker.
***
Hari ini adalah hari pertama member Super Junior kembali ke bangku SMA. Jujur saja semalaman Sungmin gugup setengah mati menghadapi hari ini, jadi dia tidak bisa tidur dan terus terjaga sampai langit timur menampakkan warna jingganya. Pukul lima pagi, saat semua member belum hengkang dari dunia mimpi, Sungmin memutuskan untuk keluar apartemen untuk jalan-jalan pagi. Terlalu dini mungkin karena sekarang musim gugur dengan udara yang tidak bisa dibilang cukup hangat.
Selesai menyusuri jalan-jalan kecil di sekitar apartemen, Sungmin kembali dan mendapati seorang tukang pos sedang memasukkan amplop-amplop dan paket ke dalam kotak surat apartemen Super Junior.
“Annyeong, Ahjussi. Adakah surat untukku?” sapa Sungmin ramah. Pak Tua tukang pos itu terkejut akan kehadiran Sungmin yang tiba-tiba, namun sesaat kemudian membalas senyuman Sungmin, “Aku sudah memasukkan semuanya ke dalam kotak surat, kau cek sendiri saja, ya, Sungmin-ssi?”
“Ne. Kamsahamnida, Ahjussi.” Sungmin membungkuk di hadapan Ahjussi tukang pos dan kemudian membiarkannya melanjutkan tugasnya, mengayuh sepeda menembus suasana pagi musim gugur untuk mengantar surat dan paket.
Sungmin mengobrak-abrik kotak surat, mencari surat atau paket untuknya. Ternyata ada satu surat untuknya, dibalut amplop coklat dan tidak dilem. Tidak ada alamat pengirim, mungkin surat kaleng dari ELF. Tapi, Sungmin tetap antusias ingin tahu apa isi surat itu.
Dugaan Sungmin salah, itu bukan surat kaleng dari ELF, melainkan sebuah surat tawaran kerja part time sebagai hacker dari Geomsaegie Corporation, perusahaan komputer yang sangat terkenal di Korea Selatan. Sungmin kaget. Benar, dia tidak akan mampu membohongi orang-orang Geomsaegie Corporation. Ah, tapi Sungmin tidak memusingkan hal kecil ini, langsung saja dia menelepon untuk mengkonfirmasi kalau dia bersedia bekerja part time di perusahaan besar itu.
Bersekolah selama satu tahun, aku harus tetap produktif, bukan?
***
“Aku sangat bahagia bisa mengulang masa SMA-ku dengan kalian semua. Seandainya Kibum, Hankyung Hyung, dan Kang In Hyung masih ada, akan lebih seru.” tutur Ryeowook dengan senyum sangat lebarnya ketika istirahat berlangsung.
“Aku rasa aku akan lebih bahagia menjadi salah satu di antara mereka. Kau sangat konyol, eh!” gerutu Heechul.
“Kau menganggap ini konyol karena kau terlihat bodoh kan di kelas, Hyung?” ledek Kyuhyun.
“Aish… Aku kan lupa, lama tidak mempelajari hal-hal kayak begituan! Bukan berarti aku bodoh, Kyu!” Heechul membela diri.
“Tapi aku sangat senang bisa bersekolah lagi. Lihatlah, semua yeoja melirik ke arah kita, berharap bisa satu kelompok bersama kita di tugas kelompok! Semua. Tidak ada yang luput sedikitpun.” Eunhyuk sangat menikmati pemandangan di sekelilingnya. Cewek-cewek SMA yang masih polos-polos sedang menatap mereka, memendam hasrat untuk bisa bersama.
Di tengah-tengah percakapan itu, Sungmin merasa ponsel yang berada di kantong celananya bergetar,
“Yoboseo? Ah, baiklah, aku akan segera ke sana,” barusan Sungmin menerima telepon. “Semua, aku harus pergi. Aku duluan ya! Annyeong…” Sungmin tergesa-gesa meninggalkan sembilan temannya yang lain.
“Hey, kau mau ke mana?” tanya Leeteuk. Sungmin bungkam.
“Setelah ini ada kelas ICT oleh Hyun Na Songsaenim, Hyung! Dia sangat cantik! Bagaimana kau bisa melewatkannya, hah?” teriak Eunhyuk karena Sungmin semakin menjauh. Tapi Sungmin sudah menghilang dari hadapan mereka.
***
Waktu yang diberikan si penelepon hanya lima belas menit. Lima belas menit untuk Sungmin sampai di gedung Geomsaegie Corporation yang cukup besar dan dicat kuning muda. Dengan semangat, Sungmin memarkir mobil Honda Civic-nya di tempat parkir dan berlari memasuki gedung dambaannya. Ini akan menjadi tugas perdana Sungmin. Akhirnya keinginannya untuk menjadi seorang hacker terwujud.
“Annyeonghaseyo.” sapa Sungmin pada seorang laki-laki yang cantik, terlihat lebih muda darinya. Dia membungkukkan badannya, disambut dengan tatapan kejam laki-laki tersebut. Secuil rasa gentar menyelip di hati Sungmin, akan tetapi itu tidak boleh menyurutkan semangatnya. Ini impiannya, ini yang harus dia lakukan.
“Panggil aku Taemin dan ikuti aku, palli!” perintah Taemin sambil mempercepat langkahnya menuju sebuah ruangan besar di lantai tujuh.
Ruangan itu berhasil membuat Sungmin menganga takjub. Dikelilingi dengan kaca tembus pandang bernuansa biru muda yang memungkinkan melihat pemandangan di luar. Komputer-komputer layar datar tertata rapi, berjajar di atas meja kokoh berwarna abu-abu tua yang terlihat sangar. Lantainya dilapisi karpet lembut berwarna senada dengan lampu yang menyinari ruangan itu, biru muda yang terang, hasil pembiasan sinar putih dengan kaca biru muda itu.
Taemin membimbing Sungmin menuju sebuah komputer. Sungmin sudah bersiap melakukan tugasnya dengan komputer itu.
“Aku dengar kau sudah cukup hebat ya?” kata Taemin, nadanya malah seperti cibiran dibandingkan dengan pujian. Sungmin tersenyum kecut. Ah, Sungmin memang tidak bisa membohongi orang-orang Geomsaegie Corporation atas kejadian lima bulan yang lalu.
***
Lima bulan yang lalu, Sungmin mencoba menonaktifkan kinerja dari sistem operasi yang running di dalam laptopnya. Sebelumnya dia meng-install software yang bisa disembunyikan agar tidak terdeteksi, software pembuat virus dan worm. Dia mulai berkreasi membuat virus dan worm itu, membuat alamat-alamat domain palsu untuk memperkuat pertahanan worm-nya.
Berulang kali dia mencoba memasukkan worm dan virus buatannya ke dalam program di laptopnya, namun tidak berhasil juga. Setelah itu dia mengulang pembuatan virus dan worm dengan memperkuat ketahanannya. Seperti itu, berulang-ulang sampai tiga hari kemudian dia berhasil menyusupkan kejahatan kecil ke dalam sistem operasi Geomsaegie. Sistem keamanan mati sama sekali, sehingga dengan mudah dia masuk ke dalam inti program serta menghapus kode utama dari sistem operasi itu, mengetikkan bahasa pemrograman yang membingungkan sebagai ganti kode utama tadi, dan hasilnya…
Sistem Geomsaegie tidak bisa bekerja di laptopnya. Laptopnya mati, tidak bisa digunakan sama sekali. Setiap diaktifkan, muncul tulisan ‘VINCY’ yang berkedip-kedip selama tiga puluh detik, kemudian laptopnya kembali mati, gagal diaktifkan. Sungmin tersenyum bangga karena berhasil melumpuhkan sebuah sistem operasi komputer yang diklaim sebagai sistem operasi komputer termutakhir di Korea Selatan.
Belum cukup sampai di situ, Sungmin juga melumpuhkan sistem operasi di laptop Leeteuk, Yesung, Eunhyuk, Siwon, Donghae, bahkan manajer hyung, yang kebetulan menggunakan sistem operasi yang sama dengan yang digunakannya. Leeteuk Hyung sampai menangis sejadi-jadinya melihat kata ‘VINCY’ yang berkedip-kedip di layar laptopnya yang dipenuhi data-data penting miliknya. Semua member tahu kalau Leeteuk bukan orang yang dengan mudahnya menangis. Sungmin merasa bersalah, namun dia tetap melanjutkan misi untuk menggapai ambisi.
Alhasil secara serempak mereka yang bermasalah dengan laptopnya kembali ke Geomsaegie Corporation untuk protes, mengeluh, dan meminta ganti rugi. Bagaimana tidak, itu sistem operasi baru yang dijamin canggih, kenapa bisa dibobol oleh ‘VINCY’?
Akan tetapi, Geomsaegie Corporation bisa mengendus kejanggalan insiden sistem operasi laptop Sungmin-Leeteuk-Yesung-Eunhyuk-Siwon-Donghae-manajer Super Junior. Tidak butuh waktu lama untuk hacker profesional Geomsaegie Corporation menemukan pelaku pembobolan dan penonaktifan sistem operasi tersebut. Satu hal yang sampai sekarang masih disesali Sungmin, kebodohannya sendiri, dia tidak melindungi kode IP address laptopnya sehingga dengan mudah terlacak.
Geomsaegie Corporation bisa saja menuntut Sungmin dipenjara dengan perkara berusaha menjatuhkan reputasi perusahaan komputer besar Korea dengan cara kotor meng-hack sistem operasi Geomsaegie yang terbaru, tetapi itu tidak dilakukan mereka. Dengan alasan aneh namun cukup masuk akal, anak pemilik Geomsaegie Corporation adalah ELF dan biasnya adalah Sungmin. Berkat rengekan si anak pemilik Geomsaegie pada appanya itulah, Sungmin tidak jadi dijatuhi tuntutan.
Jujur saja, Sungmin benar-benar merasa bodoh dan ceroboh dengan kesalahan sangat kecilnya. Sungguh, dia tidak bermaksud ingin menjatuhkan nama baik Geomsaegie Corporation, dia hanya ingin membuktikan kalau dia sudah termasuk hacker handal yang bisa diperhitungkan, selain sebagai seorang entertainer kawakan yang sudah lama naik daun. Ambisi kekanak-kanakan, mencari eksistensi diri layaknya seorang remaja. Benar-benar hal bodoh untuk namja berumur dua puluh lima tahun yang wajahnya terlihat tujuh tahun lebih muda dari umur sebenarnya.
Napas lega berhembus dari paru-paru Sungmin karena seluruh staf Geomsaegie Corporation memutuskan untuk bungkam soal insiden ini di hadapan media dan teman-teman member Super Junior. Dengan mudahnya Sungmin melupakan perkara itu, juga melupakan alasan aneh yang cukup masuk akal dari pemilik Geomsaegie untuk tidak menuntutnya. Ah, sekali lagi Sungmin melewatkan hal kecil yang istimewa.
***
Pekerjaan sementara Sungmin ini adalah sebagai hacker di Geomsaegie Corporation. Hari ini, Taemin memberikan sebuah software komputer inovasi terbaru Geomsaegie. Kewajiban hacker perusahaan ini adalah berusaha meng-hack software tersebut semampu mereka, agar mereka tahu seberapa kuat pertahanan software tersebut menghadapi cybercrime yang mulai marak di era digital ini. Jika hacker itu mampu menaklukkan ketahanan software, maka software tersebut akan diperbaharui. Begitu pun sebaliknya, jika hacker tidak bisa menembus pertahanan software, itu berarti software siap diluncurkan di pasaran. Karena peran hacker di sini sangat penting dalam menentukan kualitas produk yang akan dijual, maka sebuah perusahaan komputer yang memproduksi software dan sistem operasi tidak boleh sembarangan dalam memilih hacker.
Sudah dua ratus empat puluh menit Sungmin berkutat dengan komputer barunya dan masih belum bisa menggagalkan pertahanan software baru tersebut. Dia memutuskan untuk berjalan mengelilingi ruangan megah itu, rupanya ialah satu-satunya orang yang ada di ruangan tersebut.
Sungmin berdiri menghadap ke jalanan kota Seoul yang mulai gelap, waktu telah menunjukkan pukul lima sore. Beberapa lampu jalan sudah terlihat menyala. Sungmin sangat menikmati pemandangan dari sini, jalanan yang mulai dipenuhi anak-anak sekolah yang pulang sore karena ada tambahan jam untuk menghadapi Ujian Negara, pekerja-pekerja.
Dari sini juga Sungmin bisa melihat jalan menuju apartemen Super Junior. Sebenarnya ada banyak jalan menuju apartemen itu, tapi hari ini Sungmin akan memilih pulang lewat jalur selatan yang tidak dipenuhi mobil-mobil yang membuat macet, meskipun jalur selatan itu lebih jauh karena memutar. Waktu yang ditempuh pasti sama jika dia lewat jalur tengah atau utara yang meskipun dekat tetapi macet. Dia tidak mau terjebak kemacetan yang membosankan.
“Ah, benar! Jalur-jalur jalan itu… Eureka!” Sungmin berteriak senang karena berhasil menemukan satu strategi untuk mengalahkan pertahanan software tersebut.
Jam tangan Sungmin menunjukkan pukul lima lebih dua puluh menit. Dia harus menyelesaikan misi ini tepat pukul enam, agar dia bisa tiba di apartemen tepat pukul setengah tujuh. Hyung-hyungnya dan dongsaeng-dongsaengnya pasti tengah mengkhawatirkannnya sekarang.
Sembilan komputer dinyalakan Sungmin, total dia bekerja dengan sepuluh komputer. Dari komputer yang sedari awal dia gunakan, Sungmin membuat virus dan worm dengan tingkat sangat berbahaya, kemudian ia sebarkan ke sembilan komputer yang lain. Kemudian virus-virus dan worm yang ada pada masing-masing komputer digunakan untuk menyerang software yang terdapat pada komputer utama. Barulah dia membuat worm yang tingkat bahayanya satu level di atas virus dan worm yang menyerang software dari luar lewat sembilan komputer. Kinerjanya seperti ini :
Karena terlalu sibuk mengantisipasi usaha hacking dari luar komputer, maka tingkat antisipasi hacking dari dalam pasti akan lebih lemah. Jadi, Sungmin memilih memasukkan virus dan worm yang lebih berbahaya lewat jalur dalam, jalur yang kosong. Kinerja yang sama dengan logika jalur jalan pulang ke apartemen Super Junior. Dan sesuai perkiraan Sungmin, dia berhasil mematikan sistem pertahanan software dan dengan mudah masuk ke intinya. Tinggal menghapus kode utama dan menggantinya dengan kebiasaan hacking Sungmin, tulisan ‘VINCY’ yang berkedip-kedip.
“Aigo… Leganya.” Sungmin menghempaskan tubuhnya di atas kursi dan melepas kaca mata antiradiasi ber-frame tebal yang bertengger di hidungnya.
“Kau berhasil. Kerja yang bagus, Vincy.” sergah sebuah suara, Taemin. Kini Sungmin tahu kalau selama ia bekerja tadi, Taemin mengawasinya. Sebenarnya Taemin di sini berperan sebagai apa sih? Hacker yang sebenarnya kah? Pertanyaan-pertanyaan itu menggelayut di benak Sungmin.
“Ne, kamsahamnida, Taemin.” Sungmin tersenyum senang menerima pujian dari Taemin.
“Pulanglah, gajimu sudah dikirim ke rekeningmu. Job selanjutnya akan kuhubungi nanti. Ingat, pekerjaan ini adalah pekerjaan rahasia!” kata Taemin, masih dengan nada angkuhnya, kemudian meninggalkan Sungmin sendirian.
***
“Untung tadi Hyun Na Songsaenim juga tidak masuk, jadi kami tidak perlu mencari alasan kamu membolos.” kata Siwon.
“Sekali lagi maaf sudah merepotkan dan membuat kalian khawatir.” semua member hanya menanggapi dengan anggukan.
Sungmin pulang dalam kelelahan, tapi malah disambut wajah cemberut teman-teman yang sudah ia anggap saudaranya. Sungmin bersikeras menutupi kejadian hari ini dari member yang lain, karena itulah mereka ngambek. Tetapi sesungguhnya ada rasa bangga yang mendorong kuat Sungmin untuk menceritakan keberhasilannya menerima tugas perdana.
Maka ia memutuskan mengajak couple-nya makan malam, ia ingin sekali membagi rasa senangnya pada Kyuhyun yang sedang asyik memainkan PSP kesayangannya.
“Kyuhyunnie, temani aku makan! Aku lapar.” kata Sungmin. Dia mengacuhkan Kyuhyun yang meronta meminta Sungmin melepaskan genggamannya di pergelangan tangan Kyu.
Di dalam mobil Sungmin, Kyuhyun mulai mencak-mencak, “Aku tidak bawa uang, Hyung. Aku bahkan belum ganti baju dan menyamar.”
“Aku yang akan mentraktirmu. Soal penyamaran, dengan muka, baju, dan rambut yang kusut seperti itu aku yakin tidak ada yang bisa mengenali Cho Kyuhyun. Kau sangat jelek saat ini, Kyuhyunnie.” Sungmin bergurau, namun Kyuhyun tidak terima dan menjitak kepala Sungmin.
“Tidak sopan!” rutuk Sungmin manyun.
Lima menit kemudian mereka tiba di sebuah restoran kecil yang berjarak cukup jauh dari apartemen. Mereka duduk berhadapan di pojokan agar tidak terlalu kentara karena baik Kyuhyun maupun Sungmin tidak menggunakan penyamaran.
“Jadi, ceritakan kenapa kau mentraktirku!” pinta Kyuhyun setelah selesai memesan makanan. Muka Sungmin mulai antusias mendengar permintaan Kyuhyun, raut gembira terpancar dari wajahnya, refleks ia menggenggam tangan Kyuhyun di seberang meja. Semburat kemerahan muncul di pipi Kyuhyun yang putih.
“Hei, kenapa mukamu semerah itu? Kau sudah tahu jawabannya? Kau bisa membaca pikiranku? Wah, akhirnya kita bisa bertelepati, Kyu. Hanya dengan memegang tanganku kau tahu kenapa aku mentraktirmu dan mukamu memerah karena merasakan kebahagiaanku kan?” cerocos Sungmin dengan senyum yang mulai mengembang, memperlihatkan deretan gigi kelincinya.
Kyuhyun menggeleng, “Hyung, bolehkah aku memberitahumu sesuatu terlebih dahulu?” Sungmin mengangguk-anggukkan kepalanya dengan antusias, imut sekali.
“Saranghaeyo, Hyung.”
Hening.
“Rasa cintaku padamu, bukan cinta antarrekan kerja. Bukan pula cinta adik kepada kakaknya. Ini lebih ke arah… Yah, kau tahu kan, Hyung, cintanya pasangan. Bukan, bukan pasangan Super Junior seperti Kangteuk atau Eunhae,” Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung harus mengungkapkan dengan bahasa apa. “Ya, aku tahu sepertinya aku mulai gila, Hyung. Tapi kekangan untuk tidak berpacaran, keseharianku yang hanya bertemu dengan namja, sekamar denganmu. Lantas perhatian-perhatianmu padaku. Ini semua membuatku… Membuat aku seperti ini.”
Hening. Sungmin terlalu shock mendengarnya.
“Hyung, jawab aku… Jebal…” tatapan Kyu mulai melemah. Dia sendiri bingung kenapa tidak mampu meng-handle perasaannya. Kyuhyun dapat merasakan tangan Sungmin yang masih menggenggam tangannya, mulai dingin.
“Ya! Apa yang kalian lakukan?” sebuah suara yang tidak asing mengejutkan Sungmin dan Kyuhyun.
Kyuhyun melepaskan tangannya dari genggaman Sungmin, “Maaf, Hyung, aku permisi ke toilet.” dan berjalan meninggalkan Sungmin dengan Siwon.
“Kau kenapa ada di sini?” tanya Sungmin, melupakan kejadian tidak mengenakkan barusan dengan tersenyum, tapi yang dihasilkan malah senyum yang dipaksakan yang terlihat sangat aneh.
“Ani, aku lihat kalian pergi tanpa penyamaran, jadi aku mengikuti kalian dan membawakan ini.” Siwon menyerahkan dua buah masker ke hadapan Sungmin. Sungmin tersenyum kepada Siwon, tapi tatapannya terpaku ke pintu toilet dan bertanya-tanya, Kyuhyun masih masuk ke toilet cowok kan?
***
Pagi-pagi sekali ponsel Sungmin sudah berdering. Telepon dari Taemin, sinyal kalau pasti dia disuruh datang ke Geomsaegie untuk menunaikan tugasnya lagi.
Sungmin tidak perlu masuk ke ruangan kerjanya, bahkan menginjakkan kaki ke dalam gedung. Taemin sudah menunggu di depan gerbang dan langsung duduk di sebelah kemudi.
“Kau dipecat.” singkat, padat, menusuk.
“Wa… Wa… Wae… Waeyo?” suara Sungmin mulai bergetar.
13131313131313131313131313+2
Hai, hai.. Ini adalah FF. :D Udah pernah aku post di Facebook aku, tapi kalo di WP aku jadiin dua part karena menurut para pembaca dari Facebook, cerita ini kepanjangan. Hope you’ll like it. ^^